Wednesday, November 30, 2005

Cambodian Youth Potential Artists

reyum outside

Hari ini (30 Nop), setelah sarapan di Java Cafe sambil meeting, aku langsung mengunjungi Reyum Art School, sebuah tempat belajar seni lukis untuk masyarakat yang sangat merakyat.

Undangan ke Reyum sangat dadakan, karena konfirmasi sehari sebelumnya diluar jadwal besar.

reyum am i khmer

Go rock n' roll aja deh, dadakan mah dah biasa.

reyum signing

Apalagi untuk masuk di sekolah-sekolah alternatif kayak begini.

reyum class final


Awalnya aku kebingungan nyari translator, Vannak sedang sedang punya urusan keluarga, lagian dia punya jadwal penerjemahan nanti malam di Sovanna Phum untuk diskusi terakhir. Tapi ternyata Lim Vanchan, direkturnya bukan sembarang orang, selain komunikatif dia juga dapat menangkap dgn jelas apa yang kita diskusikan dengan para siswa nya.


ya, petualangan yang menyenangkan, karena interest para siswanya yang dikumpulkan antara umur 12-20 tahun, begitu polos lugas dan banyak keingin tahuan. Semoga bisa berlanjut acara-acara seperti ini. Now, it's time for lunch and jalan-jalan, sampai nanti malam, pemutaran 'Beth' nya Aria Kusumadewa dan grand diskusi tentang Independent Scene.

Indie is Rolling.....

Sebenarnya kemarin adalah hari yang sangat aku rindukan, karena banyak waktu luang yang dijadwalkan untuk shopping, jalan-jalan part II. So after breakfast, kopi Kamboja yang kentalnya minta ampun itu lumayan bisa "membangunkan" aku untuk jalan-jalan. Wat Langka, adalah tempat pertama yang dikunjungi, salah satu kuil bersejarah di Phnom Penh, selain tempatnya nggak jauh dari Royal Palace dan Independence Monument, tempat itu juga menjadi rumah tinggal para biksu (monks, semoga tidak salah dengan penerjemahan).


Tuol Sleng 01

Setelah itu, diantar oleh Vuth kita mampir di tempat yang sebenarnya aku malas untuk masuk, yaitu Tuol Sleng (Genocide Museum), hawanya angker. Bangunan itu adalah tempat dimana Pol Pot melakukan pembantaian ribuan manusia. Aku pikir hanya tempat yang memperlihatkan peninggalan-peninggalan aja, ternyata Polpot selalu memotret korbannya sebelum dan sesudah dibantai, ada beberapa orang yang masih hidup dari pembantaian itu, diantaranya adalah sang fotographer dan seorang pelukis yang kemudian melukiskan kejadian itu. Jadi, foto-foto itu dengan jelas menghubungkan secara langsung antara gambar dan tempat serta cara bagaimana pembantaian itu terjadi, ini tragedi kemanusiaan yang jangan sampai terulang lagi. Indonesia pun sebenarnya kalau terkumpul dokumentasinya mungkin akan mempunyai museum yang sama, atas`DOM di Aceh, Timor Leste dan beberapa konflik horizontal lainnya, There's a many history that written by blood in our world.
Tuol Sleng 01 /
Tuol Sleng 02 /
Tuol Sleng 03

Kini aku disini menuliskan sejarah dengan gambar, komik (semoga berhasil). Yap, menghilangkan rasa mual dari Tuol Sleng, aku pergi shopping ke Russian Market, kayak orang gila yang haa... beli ini, beli itu, buat oleh-oleh.

Dan malamnya, adalah screening (@ Sovanna Phum) untuk hari pertama, hujan lebat yang tidak diduga membuat deg-degan karena akan menghalangi audience yang datang ternyata reda menjelang jam 7.30, akhirnya film pertama pun diputar: adalah

bis kota
'Bus Kota' (Lulu Ratna)


film yang membuat aku bangga sekaligus miris, inilah Indonesia in reality, tidak seindah dalam iklan. Film kedua adalah rangkaian animasi, dari 'Stop Human Cloning', Tahi Sapi atau Bukan, Bayangkanlah -klip untuk lagu dari band Padi,



karya Wahyu Aditya (Hellomotion) salah satu animator yang paling produktif di Indonesia, dan beberapa karya lainnya seperti ''Gathot Kaca", dan salah satu film anak-anak Studio Kasatmata, yang jelas film-film itu membuat semua orang tertawa dan kagum. Rocks!


Sovanna Phum audience

Setelah itu diskusi, dan tanpa diduga pula pertanyaan banyak datang dari penonton tentang scene animasi Indonesia yang bisa mandiri membuat film yang mereka suka dan sangat lugas dalam berekspresi... yah... kita akan belajar bersama.

Sovanna Phum question answer

beng_kosal_samphos